Selasa, 18 Desember 2012

Filosofi Nelayan

      Alkisah di sebuah desa nelayan di pesisir pantai. Seorang bocah pengembara datang dengan keadaan menyedihkan. Bajunya kumal, badan kurus, matanya kosong. Salah seorang nelayan kemudian menghampiri, merangkul dan menghangatkan bocah itu dalam rumahnya. Sang Nelayan memberikan hasil tangkapannya yang paling segar. Si Bocah makan dengan lahap.

     Keesokan harinya, anak itu diajak berkeliling. Menemui warga sekaligus berkenalan dengan mereka. Ketika malam tiba, mereka sampai di tepi tebing karang yang menghadap lautan. Perut mereka berbunyi. Seharian berkeliling, mereka belum menyantap apapun. Mereka kemudian mengambil sebuah perahu dan berlayar agak ke tengah. Terlihat beberapa nelayan lain yang sedang mecari ikan di sana.

       Sang Nelayan membuka tasnya, mengeluarkan jala dan alat pancing miliknya. Ia menebar jalanya. Satu, dua, tiga kali. Hingga akhirnya ia menjaring beberapa ekor ikan besar. Ia ikat ikan-ikan itu kemudian menyerahkan jalanya pada sang Bocah. 
   
"Ini nak, ambillah. Sekarang giliranmu." Sang Nelayan kemudian meloncat ke air dan berenang ke tepian dengan membawa hasil tangkapannya.

Di tepian, ia ditegur oleh nelayan lain yang melihat kejadian itu. "Wahai tetangga! Aku tidak begitu mengerti tentang yang kau lakukan. Tapi kulihat engkau meninggalkan anak malang itu di tengah lautan!"

"Benar saudaraku" Balas sang Nelayan santai.

"Bukankah engkau telah mengajaknya berkeliling desa seharian ini tanpa makan sedikit pun? Lalu engkau meninggalkannya sendirian dengan membawa hasil tangkapanmu? Apakah engkau tidak mau membaginya dengan anak itu?" Tanya sang tetangga penuh heran dengan nada agak kesal.

Sang Nelayan tersenyum. "Benar saudaraku, aku meninggalkannya. Tapi dengan perahu dan jala milikku."

"Aku masih tidak mengerti!" Kata tetangga keheranan. 

Dengan sabar sang Nelayan balik bertanya, "Bukankah kita seorang nelayan? Bukankah kita telah  menjalani kehidupan di lautan sekian lama? Dalam sekian waktu itu apa yang kita lakukan?"

"Tentu saja kita menangkap ikan. Kita seorang nelayan" Jawab tetangga itu.

"Nah, itulah yang sedang aku ajarkan. Ketika engkau memberi anak itu seekor ikan, engkau memberinya makan sehari. Tetapi jika engkau memberi tahu anak itu cara menangkap ikan, engkau memberinya makan seumur hidup. Bukankah itu yang membuat kita hidup di lautan selama ini, wahai Saudaraku?" Kata sang Nelayan.

"Aku mengerti sekarang..." Kata sang tetangga mengangguk.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        Sang Nelayan mengajarkan bahwa dalam hidup, ilmu lebih bermanfaat dari materi. Ia mengajarkan pula, ketika menyampaikan ilmu, hendaknya penyampai memberikan contoh terlebih dahulu. Kemudian penyampai ilmu perlu sebuah metode agar orang yang disampaikan mengerti. Seperti sang Nelayan yang meninggalkan si Bocah sendirian, memberikannya dua pilihan; belajar menangkap ikan, atau menepi kelaparan.

Selayaknya kata Ali bin Abi Thalib, 
"Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu menghukum dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan."

Re-told by me. This story is made based on original quote by Bayu Harditama 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar