Sabtu, 05 Januari 2013

Anak yang Berbau Melati

Kurasa diriku adalah seorang pendiam. Ironisnya mulutku tidak pernah berhenti tertutup, selama ada telinga yang terpasang dalam radius semeter. Bercanda, tertawa, bernyanyi. Yakin, hidupku memang sejatinya berisik. Tapi tentu saja aku selalu berusaha menjadi orang yang ramah dan bersopan santun. Seringkali aku heran, dibalik gelegar canda yang terlontar, yang terdengar, aku kesepian. Kala sendiri, aku layaknya seorang aktor yang lelah selepas menghibur penonton. Duduk, termenung, membersihkan riasan dan pernak pernik glamor panggung. Lalu sendiri ia pulang. Sang aktor kembali pulang, membawa kesepian dan kejenuhan. Menaruhnya di bawah bantal untuk dipeluk pada malam ini, esok dan seterusnya

Hingga suatu malam ku bermimpi. Tentang sebuah pondok kayu sederhana yang indah di tengah hutan. Jendelanya tanpa kaca, tertutup sangat rapat. Tapi pintunya sedikit terbuka, aroma melati menyeruak dari baliknya. Aku mendorongnya, memasuki ruang keluarga  dengan sebuah sofa kusam dan meja kayu persegi yang mengkilap di sudut ruang. Sebuah lemari panjang dengan pintu kaca berdiri di pojok ruang. Isinya penuh dengan benda berkilau dan buku-buku yang sangat kukenal, begitu rapi dan bersih. Di sudut lain kulihat sebuah tangga menuju lantai dua dengan sebuah pintu bergembok di sampingya

Ruang itu sedikit gelap, begitu dingin, dan menyesakkan. Pada dindingnya bergantung puluhan foto wajah yang buram. Aku menghampiri salah satu foto. Gambarnya buram, tapi aku yakin aku mengenalnya. Aku beralih ke foto di sebelahya, tak kalah buram, dan aku lagi-lagi aku yakin, aku mengenal orang dalam foto itu. Berusaha mendekatkan mataku, kakiku menyandung sesuatu di lantai. Sedikit ragu dan takut, aku ambil benda itu. Kamera tua rupanya, masih menggunakan roll film. Aku memutar-mutarnya di tanganku, berusaha mencari tombol untuk menyalakannya. 

BLITZ! 

Tiba-tiba lampunya menyala, ternyata kamera itu sudah aktif. Sesaat sesudahnya kudengar benda jatuh di belakang sofa. Ku langkahkan kakiku menghampiri sofa itu. Tiba-tiba seorang anak muncul, mengintip dari balik sofa. Ku ayunkan langkahku yang selanjutnya.
"Jangan!" Anak itu membentak. Aku berhenti.

"Tolong jangan bawa benda itu! Jangan..." Tangannya menutupi kepalanya.
Aku mengerti, ku simpan tanganku yang menggenggam kamera di belakang tubuh.

"Anda tahu, Tuan? Di luar sana ada danau yang begitu indah" Ia melanjutkan, nadanya menjadi sangat lembut.
"Oh ya, ikutlah denganku kalau begitu, aku takut tersesat." Kataku. Saat itu kupikir ia anak yang tersesat dan mengalami trauma, aku ingin mengajaknya keluar dari tempat dingin dan menyesakkan itu.

"Tidak perlu, Tuan. Jangan ikutkan aku dalam foto kalian, aku bukan siapa-siapa." Suaranya bergetir. Rupanya ia masih mengira aku mau mengambil fotonya. Anak itu kemudian berdiri.  Kata anak itu seraya berdiri. Kepalanya tertunduk, wajahnya tenggelam dalam gelap.

"Cepat atau lama aku akan dilupakan. Lebih baik tidak diingat dari awal daripada dilupakan kemudian." 

Kata-katanya terdengar jelas, aku merasa begitu sedih, bukan karena kasihan. Terasa ada yang bergejolak di hati. Aroma melati bertambah kuat, begitu menyengat. Kepalaku pusing, semuanya gelap. Terasa setetes air mengalir di pipiku. Aku sadar, itu air mata.

Aku terbangun, bangkit dan duduk. Pipiku basah, aku benar-benar menangis. Perasaan ini begitu kacau. Rasanya seperti tersesat dalam hutan dan tak mungkin lagi kembali menemui orang-orang tersayang.
----------------------------------
Malam berikutnya. Aku berbaring di atas kasur, memikirkan mimpiku pada malam sebelumnya. Masih terbayang gambaran sofa kusam di sudut ruang. Sofa itu terngiang di kepalaku, mungkin saja nyaman sekali jika bisa merebahkan tubuh lelah ini di atasnya. Mataku terpejam.

Mataku terbuka, keadaan masih gelap, kupikir aku bangun tengah malam. Aku beranjak. Kaget. Ternyata aku tidur di atas sofa pondok kayu dalam mimpiku sebelumnya. Mimpi yang berlanjut, sangat jarang fenomena ini terjadi, setahuku. 

Seperti mimpi sebelumnya, ruang keluarga itu masih sama, bersih dan rapi, tapi juga dingin dan menyesakkan. Aku melihat sekeliling. Ternyata ada yang berubah. Pintu bergembok di bawah tangga kini terbuka membentuk celah. Aku masuk. Ada dua pintu lagi, kiri dan kanan. Pintu kanan terbuka lebar, aroma melati semerbak dari dalamnya. Aku memsaukinya. Sama gelap dan dingin dengan ruang keluarga di depan. Ternyata itu ruang tidur. Sebuah ranjang kayu tanpa kasur dan sebuah lemari pakaian tanpa pintu tertata cantik di ruang itu.

Beberapa langkah, kakiku berhenti. Ada serakan cermin di lantai. Aku melihat pecahan yang paling besar, cukup besar untuk melihat seluruh wajahku bahkan dari jarak yang dekat. Aku membungkuk, berusaha menggapainya. Seketika itu, kulihat sekelebat bayangan meringsuk masuk di bawah ranjang tidur. Tanpa kusadari aroma melati menguat. Mungkinkah anak dalam mimpiku kemarin?

Kusingkirkan serpihan cermin di lantai dengan perlahan, pecahan terbesar kupegang. Kemudian ku telungkupkan badanku, berusaha melongok ke bawah ranjang.

"Jangan!" Suara kecil menyahut, mendahului pandanganku menemukan sumber suara itu.
"Tolong, jangan bawa cermin itu ke hadapanku. Sudah cukup ejekan orang padaku. Apakah kau ingin aku mengejek diriku juga?" Suara itu melanjutkan, terdengar marah, tapi seperti hendak menangis.

Lagi-lagi hatiku bergejolak. Rasanya begitu pedih, dan kesal, entah mengapa. Aroma melati bertambah kuat. Kepalaku pusing, pandangan hilang. Aku seperti kehilangan indra. Terbangun, sudah subuh rupanya. Terasa udara subuh tidak sedingin ruangan dalam mimpiku. Aku masih kesal, gelisah dan marah. Tapi kenapa? Entahlah...
-------------------------------------------
Mala ketiga sejak mimpi pertama. Aku berbaring, berharap tidak melanjutkan mimpi kemarin. Lampu kamar kubiarkan menyala, agar merasa terjaga. Kupandangi terus lampu kamarku, lama kelamaan cahayanya mengecil. Mengecil dan terus mengecil. Ia menjadi setitik cahaya, seperti bintang di langit malam. Aku sadar, bahwa aku mulai mengantuk. Tak rela, aku berusaha bangkit mencakar cahaya yang meredup. Aku tertuduk, keadaan gelap. Ternyata aku sudah di ruang keluarga dalam pondok di mimpiku.

Tidak ada jalan lain. Untuk bangun, aku harus menemui anak itu, seperti halnya mimpiku yang kemarin. Kulihat sekeliling, tak ada yang berubah. Bahkan pintu yang kemarin kembali hadir dengan gemboknya. Kucoba membuka pintu depan. Terkunci, aku menjelajahi sisi-sisi ruang itu. Ketika aku sampai di depan tangga, mulai tercium aroma melati, tidak sekuat di mimpi-mimpi sebelumnya. Mungkin itulah petunjuknya. Aku menaiki tangga dengan perlahan. Aroma melati semakin memudar. Pada anak tangga terakhir, aroma melati benar-benar menghilang.

Ternyata lantai dua adalah sebuah loteng. Dua buah jendela tertutup gorden terpasang di sisi atap yang miring. Salah satunya meneruskan setitik cahaya, tidak begitu besar, hanya sedikit lebih terang dari cahaya lampu sebelum aku jatuh dalam mimpi aneh ini. Kucoba meraih gorden itu dengan sedikit menjinjit. Sebelum ujung jariku menyentuh jendea itu, suara berisik terdengar di sudut loteng. 

"Jangan!" Terdengar suara memohon. Benar saja, suara berisik itu keluar dari gerak gerik sosok itu. Anak berbau melati dalam mimpi sebelumnya, duduk mendekam memeluk lututnya.

"Jangan buka jendelanya. Biarkan gelap di sini! Biarkan aku tak tahu apakah matahari bersinar atau tidak. Aku ingin menghilang, tak berbeda antara ada dan tiada." Katanya begitu cepat dan datar, tapi begitu terasa kearahan di dalamnya.

Lagi-lagi, kalimat-kalimat itu mengguncang hatiku. Tetapi rasanya berbeda dengan sebelumnya. Setelah guncangan itu, hatiku terasa hampa. Aku rubuh berlutut. Ditopang kedua tangan aku meratap ke lantai. Tak merasakan apapun. Aroma melati tak kunjung tercium, kepalaku belum juga pusing. Aku ingin keluar dari mimpi ini, perasaan hampa ini begitu tidak mengenakkan. Aku bangkit, meraih anak di sudut loteng. Berat, aku tak mampu berdiri. Rubuh lagi, mataku terpejam. Pelupuk ini begitu berat, kucoba sekuat tenaga mengankatnya. Beberapa saat sebuah sinar menyilaukan menusuk mata. Aku sudah bangun, mataku terbuka melihat lampu kamar yang belum dimatikan. Masih tengah malam rupanya. Aku duduk, meringkuk di atas tempat tidur. Rasanya hampa, bingung harus berbuat apa. Tak terasa, aku kembali tertidur. Begitu tenang, tanpa ruang gelap yang dingin dan aroma melati. Selamat pagi.
-----------------------------------------

Malam keempat sejak mimpi pada malam pertama. Kali ini aku justru ingin menemui anak itu lagi. Aku segera tidur, walau jarum pendek masih menunjuk angka 8. Pukul 10 malam, aku tak kunjung tidur. Semakin ingin aku bermimpi, semakin sulit aku tidur. Tengah malam, aku masih kesulitan untuk sekedar tidur. Aku beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi. Mencuci muka dan kemudian sejenak menatap cermin. Kulihat titik di antara kedua mataku. Terbayang sosoknya, anak yang berbau melati dalam mimpi.

Aku keluar dari kamar mandi. Semuanya gelap, tak pernah kumatikan lampu di sekitar kamar mandi, seingatku. Aku memandang ke kejauhan. Tampak samar sebuah lemari tanpa pintu dan sebagian ranjang kayu. Ada sedikit kilatan di lantainya. Itu pecahan cermin. Aku sudah di alam mimpi rupanya. Ruangan tempat aku keluar barusan tenyata adalah tembusan pintu sebelah kiri setelah pintu bergembok.

Aneh, tidak segelap mimpiku yang sebelumnya. Udaranya terasa lain, hangat. Aku menuju ruang keluarga, membuka pintu bergembok. Beberapa derajat pintu kutarik, semerbak melati tercium. Begitu kuat, sampai-sampai hidungku gatal. Kubuka pintu bergembok lebih lebar lagi. Udara hangat dan cahaya redup mengisi ruang itu sekarang.

"Selamat datang." Nada ramah menyapa.

Aku menengok. Rupanya anak berbau melati. Ia menunggu di balik pintu bergembok, menggigit kukunya. Aku mendekatinya, berlutut di sampingnya. Wajahnya terlihat kini, dengan cahaya redup. Rambutnya ikal, tubuhnya kurus, matanya sayu. Begitu familiar, begitu dekat. Aku yakin aku mengenalinya. Ia mengenakan kemeja dengan celana pendek selutut.Di punggungnya tergambar sebuah motif abstrak, tidak jelas.

"Engkau datang lagi... Aku..." Logatnya sopan, tapi tidak sesopan pertama kali bertemu, saat ia memanggilku dengan sapaan 'Anda'.

 "Jujur saja aku bingung... Tidak tahu tepatnya..." Gaya bicaranya mulai akrab.
"Oh, maafkan aku karena sikapku... Maaf, aku ...
Oh, maaf sepertinya aku juga harus berterimakasih, maaf...
Maaf, sepertinya aku terlihat kacau... Em, maaf, tapi, yah... Terima kasih..."

Aku membelai rambutnya, "Tidak mengapa..." Hati ini merasa gelisah.
"Maaf selama ini aku mengganggu tidurmu." Ia menitikkan air mata. Entah mengapa.
"Aku akan pergi, Tuan. Aku akan pergi dari mimpimu."

Aku lepaskan tanganku dari kepalanya. Apakah ini berarti mimpiku usai?"
"Ya, Tuan, sudah usai. Aku tidak akan menemuimu lagi. Bagiku sudah cukup engkau menemuiku pada malam-malam yang lau." Segera ia berlari menuju pintu depan, berhenti sejenak.

Ku lihat jelas motif di punggungnya. Sebuah abstrak, lama kelamaan membentuk sebuah wujud. Sebuah gambar burung dan beberapa kuntum bunga. Langkahnya berlanjut. Tangannya menggapai pintu. Tangisannya ikut menjadi.

"Tunggu!" Kataku spontan.

Ku dekati dia, memandang baik-baik wajahnya yang basah. Menghirup aroma melati yang menyengat. Aku turut menangis. Aku sadar siapa anak itu. Betap bodohnya aku, butuh empat malam hingga aku sadar siapa dirinya.

Aku bergetar,"Maaf... Maafkan aku, wahai diriku..."
"Benar "Aku", akulah dirimu... Engkau sudah mengingatku? Ay, lamanya..." Tangisnya berhenti. Senyuman tergurat lebar diwjahnya.
"Benar, maafkan aku, maafkan aku telah melupakan dirimu, wahai Masa Laluku..."

Ia tersenyum, anak itu, aku, masa laluku. Ia tersenyum, menarik pintu depan. Cahaya terang memasuki pondok. Semakin terang dan terang. Menelan wujud masa laluku yang tersenyum lebar. Kudengar lirih katanya.
"Terima kasih, "Aku""

Aku terbangun. Tersenyum kecut. Benar, anak itulah masa laluku. Aku yang kecil. Begitu pemalu dan takut. Aku takut mengenal orang lain karena aku takut kehilangan mereka. Merasa tidak berharga dan terlupakan. Begitu seringnya aku diejek, aku takut melihat cermin, takut ejekan itu adalah kenyataan. Aroma melati, ya, benar. Aku suka sekali melati. Aku suka bunga, sampai julukan yang jelek menjadi namaku.

Seiring waktu aku berubah. Tapi aku salah. Aku menipu diriku sendiri. Aku melupakan masa lalu agar bisa tersenyum. Aku lupa, bahwa yang memberiku senyuman sekarang adalah masa lalu. Yang memberiku kekuatan berdiri hingga saat ini adalah masa lalu. Yang membuatku sadar bahwa aku tidak sendiri adalah masa lalu.

Sehingar bingarnya aku, itu bukan diriku. Ya! Aku akan katakan pada dunia. Aku lebih baik kini. Tidak lagi tersenyum karena dusta. Aku akan tersenyum padamu, bukan karena aku seorang yang ramah atau baik hati. Tapi karena aku orang yang menyukai bunga, orang yang pemalu dan suka menyendiri.  Senyumku kini akan kupersembahkan dari hatiku, dari diriku yang sebenarnya, tak kurang, tak lebih.

Terima kasih diriku, Anak yang Berbau Melati

Who am I?
I am simply, myself, no more, no less...
------------------------------------------------
Selama masa lalu itu menguatkanmu, selama masa lalu itu mengingatkanmu, selama masa lalu itu membentukmu, jangan lupakan masa lalu. Masa lalu ada untuk dipelajari, bukan dilupakan. 

ttd. Teman yang Berbau melati